Barokah dan Sebab-sebab Datangnya Berkah

Makna Kata ‘Barokah’
لبركة هي: النماء والزيادة والسعادة والكثرةُ في كلِّ خير
Kata al-Barokah berarti: Berkembang, bertambah dan kebahagiaan. Imam an-Nawawi mengatakan tentang makna Barokah:
أصل معنى البركة كثرة الخير ودوامه
Imam an-Nawawi-rahimahullah-berkata: “Asal makna keberkahan adalah kebaikan yang banyak dan terus menerus. (Syarah Shahih Muslim: 1/225).

Gambaran Keberkahan
Barokah dan Sebab-sebab Datangnya Berkah

Guna mengetahui terkait gambaran makna kata Barokah ini, ada baiknya kami hadirkan mengenai gambaran barokah yang terdapat dalam al-Quran maupun as-Sunnah, sbagai brikut:

Tatkala baginda Nabi-shallallahu ‘alaihi wa sallam-menceritakan tentang berbagai macam kejadian yang mendahului pristiwa kebangkitan hari kiamat, beliau-shallallahu alihi wasallam-bersabda:

يقال للأرض: أنبتي ثمرتك وردي بركتك، فيومئذ تأكل العصابة من الرمانة، ويستظلون بقحفها، ويبارك في الرِّسْلِ، حتى إن اللقحة من الإبل لتكفي الفئام من الناس، واللقحة من البقر لتكفي القبيلة من الناس، واللقحة من الغنم لتكفي الفخذ من الناس. رواه مسلم

“Akan diperintahkan (oleh Allah-azza wa jalla-) kepada bumi: tumbuhkanlah buah-buahanmu, dan kembalikan keberkahanmu, maka pada saat itu, sekelompok orang akan merasa cukup (bisa kenyang) dengan memakan satu buah delima saja, & mereka dapat berteduh di bawah kulitnya. Dan air susupun diberkahi, sampai-sampai sekali peras seekor unta bisa mencukupi banyak orang, dan sekali peras susu seekor sapi bisa mencukupi manusia satu kabilah, dan sekali peras, susu seekor domba bisa mencukupi satu cabang kabilah.” (HR.Muslim)

Begitulah ketika rizki diberkahi oleh Allah, walaupun rizqi yang sedikit jumlah nya, namun manfaatnya sangatlah banyak, hingga satu buah delimapun dapat membuat kenyang segeromboanl orang, susu hasil perahan seekor sapipun bisa mencukupi kebutuhan masyarakat satu kabilah.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah-rahimahullah-mengatakan: “Tidak lah kelapangan suatu rizqi di ukur dengan jumlah atau kuantitasnya yang banyak, dan tidaklah panjang umur itu dilihat dari bulan & tahunnya yang berjumlah begitu banyak. Namun kelapangan rizki & umur diukur dgn keberkahannya.” (Lihat: ad-Daa’ wa ad-Dawaa’ : 56). 

Beliau (Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah) mengatakan pula dalam kitab Zaadul Ma’ad : ”Sesungguhnya dahulu kala biji-bijian itu, baik berupa gandum atau lain nya lebih besar (ukurannya) dibanding yg ada sekarang ini, sebagaimana pula keberkahan yang terdapat biji-bijian saat itu jauh lebih banyak. Bahkan Imam Ahmad bin Hambal telah meriwayatkan dengan sanadnya, bahwa telah di temukan di gudang sebagian para khalifah Bani Umawiyyah sekantong gandum yg biji-bijinya sebesar biji kurma, & bertuliskan pada kantong luar nya: “Ini adalah gandum yang tumbuh di masa keadilan di tegakkan.”[1]

Dari sahabat yang mulia Urwah al-Bariqy-radhiallahu anhu-, bahwasa nya baginda Nabi-shallallahu ‘alaihi wa sallam-pernah memberinya uang sebanyak satu dinar supaya dia membelikan seekor kambing utk beliau (Nabi-shallallahu alaihi wasallam-), lantas sahabat Urwah dgn uang itu membeli sebanyak 2 ekor kambing, kemudian menjual salah satunya dengan harga satu dinar, & diapun datang menghadap kepada baginda Nabi dgn membawa uang sebanyak satu dinar & seekor kambing. Lantas Nabi mendoakan nya supaya mendapatkan kebarokahan dlm perniagaannya. Sampai-sampai seandainya dia membeli debu, niscaya dia bakal mendapatkan keuntungan padanya.” (HR.Bukhari)

Para Nabi juga meminta keberkahan dari Allah-azza wa jalla-, ketika Nabi Nuh-alaihis salam-berdoa meminta keberkahan pada tempat di mana beliau singgah/menetap, Allah berfirman:

وَقُلْ رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ

“Dan katakanlah : “Tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi dan Engkau adalah dzat yang paling baik dalam menempatkan.”(Surat al-Mukminun: 29).

Begitu pula penghulu para Nabi-shallallahu alaihi wasallam-berdoa kepada Rabb-nya agar diberi keberkahan dalam karunia yang diberikan Allah kepadanya, dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Tirmidzi bahwa di antara doa Nabi adalah:

وبارِك لي فيما أعطيتَ

Ya Allah berilah keberkahan terhadap apa yang Engkau berikan.”

Sebab-sebab Datangnya Keberkahan

Berikut adalah sebagian saja sebab-sebab yang mendatangkan keberkahan sebagaimana ditunjukkan oleh dalil-dalil yang ada:

Iman dan Takwa kepada Allah-azza wa jalla-

Allah-ta’ala-berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ 

“Seandainya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, niscaya kami akan bukakan keberkahan dari langit dan bumi.”(Surat al-A’raf:92).

Diantara perwujudan iman kepada Allah Ta’ala yang berkaitan dengan penghasilan ialah dengan senantiasa yakin dan menyadari bahwa rizqi apapun yang kita peroleh ialah atas karunia dan kemurahan Allah semata, bukan atas jerih payah atau kepandaian kita. Yang demikian itu karena Allah Ta’ala telah menentukan jatah rizqi setiap manusia semenjak ia masih berada dalam kandungan ibunya. 

Qana’ah dan Ridho dengan Pemberian Allah-azza wa jalla-

Nabi-shallallahu alaihi wasallam-bersabda:

إن الله - تبارك وتعالى - يبتلي عبده بما أعطاه، فمن رضي بما قسم الله - عز وجل - له، بارك الله له فيه ووسعه، ومن لم يرضَ لم يبارك له فيه

“Sesungguhnya Allah-tabaraka wa ta’ala-menguji hambanya dengan rizki yang Dia berikan kepadanya, maka barangsiapa yang ridha dengan apa yang diberikan Allah-azza wa jalla-kepadanya maka Allah akan memberkahinya pada rizki itu dan memperluaskan untuknya, dan barangsiapa yang tidak ridho maka Allah tidak akan memberi keberkahan padanya.”(Silsilah al-Ahadits as-Shahihah: 4/215).

Imam as-Suyuti-rahimahullah-berkata terkait makna Qana’ah ini:

القناعة: الرضا بما دون الكفاية، وترك التشوُّف إلى المفقود، والاستغناء بالموجود

Qana’ah adalah ridho dengan rizki yang menurutnya jauh dari cukup, tidak mengangan-angankan yang tidak ada dan merasa cukup dengan yang ada.[2]

Seorang yang qana’ah beriman bahwa Allah ta’ala telah menjamin dan membagi seluruh rezeki para hamba-Nya, bahkan ketika sang hamba dalam kondisi tidak memiliki apapun. Sehingga, dia tidak akan berkeluh-kesah mengadukan Rabb-nya kepada makhluk yang hina seperti dirinya.

Coba kita tengok bagaimana reaksi salaf tatkala dihadapkan dengan kondisi seperti ini, Ibnu Mas’ud radhilallahu ‘anhu pernah mengatakan: 

إِنَّ أَرْجَى مَا أَكُونُ لِلرِّزْقِ إِذَا قَالُوا لَيْسَ فِي الْبَيْتِ دَقِيقٌ

“Saat yg paling aku harapkan untuk memperoleh rizki adalah saat mereka mengatakan: “Tidak ada lagi tepung yg tersisa utk membuat makanan dirumah. (Jaami’ al-Ulum wa al-Hikam).

Bersyukur Terhadap Rizki

Allah-azza wa jalla-berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Jika kalian bersyukur niscaya akan kami tambahkan untuk kalian dan jika kalian kufur maka sungguh azab-Ku sangat pedih."(Surat Ibrahim : 7).

Tidak Boros dan Berlebih-lebihan

Dari itu kita diberitahu oleh Nabi-shallallahu alaihi wasallam-bahwa perempuan/istri yang paling banyak barokahnya adalah yang paling ringan mas kawinnya, Nabi-shallallahu alaihi wasallam-brsabda;

إن من يمن المرأة تيسير خطبتها وتيسير صداقها، وتيسير رحمها

Ssungguhnya di antara kbrkahan sorang perempuan adalah mudahnya ia dilamar, ringannya mas kawin…”(Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil, no.1986).

Menyambung Tali Silatur Rahim

Nabi-shallallahu alaihi wasallam-bersabda:

مَن سَرَّه أن يُبسَطَ له في رِزقِه، ويُنسأَ له في أثرِه، فَلْيَصلْ رَحِمَه 

“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya ia menyambung tali silatur rahimnya.”(HR.Bukhari). 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
[1] Zaadul Ma’ad : 4/633, riwayat yang dimaksud terdapat dalam Musnad Imam Ahmad : 2/296). 

[2] Mu’jam Maqaliid al-Ulum: 215,217.

0 Response to "Barokah dan Sebab-sebab Datangnya Berkah"

Posting Komentar

Pertanyaan dan komentar, akan kami balas secepatnya-insyaallah-.